Blog Details

Mana yang Lebih Baik, Nasi Panas atau Nasi Dingin?

       Seseorang  yang menderita Diabetes Mellitus tentu harus lebih memperhatikan asupan makanan sehari-hari. Salah satu faktor yang meningkatkan terjadinya resiko Diabetes Mellitus adalah pola makan yang tidak sehat seperti diet tinggi indeks glikemik. Salah satu jenis pangan berindeks glikemik tinggi adalah nasi. Bagi masyarakat Indonesia, nasi adalah makanan pokok utama, jadi tidak lengkap rasanya apabila makan tanpa mengonsumsi nasi. Namun, berbeda bagi para penderita Diabetes Mellitus, nasi adalah salah satu makanan yang dibatasi karena mampu meningkatkan kadar gula darah. Banyak kabar yang beredar dalam masyarakat  mengatakan bahwa nasi panas sebaiknya dihindari bagi penderita Diabetes Mellitus. Benarkah kadar gula pada nasi panas lebih tinggi dari pada nasi dingin dan apa yang membuat makan nasi dingin berbeda dengan nasi panas bagi penderita Diabetes Mellitus?

       Nasi yang dibiarkan pada suhu ruangan cenderung memiliki indeks glikemik yang rendah dibandingkan kadar gula pada nasi panas. Menurut Kementerian Kesehatan RI, kandungan kalori dari nasi panas maupun dingin memang cenderung sama saja, yakni  sekitar 175 kalori untuk 100 gram, hanya saja indeks glikemik dari nasi dingin jauh lebih rendah dari nasi panas. Nasi yang disimpan dan mengalami penurunan suhu dapat mengalami retrogradasi sehingga nasi memiliki kadar pati resisten yang lebih tinggi dibandingkan dengan nasi yang baru matang (masih tergelatinisasi). Retrogradaasi pati terjadi selama proses penyimpanan atau pendinginan nasi berlangsung (Sonia, Witjaksono, & Ridwan, 2015). Mengonsumsi makanan dengan kadar pati resisten yang tinggi dapat menurunkan kadar kenaikan gula darah (Dewi & Isnawati, 2013). Kadar pati resisten mirip dengan serat yang tidak dapat dicerna oleh tubuh sehingga dapat membantu menurunkan kadar gula darah. Saat nasi dimasak dan kemudian didinginkan selama beberapa jam, ini dapat mengubah bentuk dan struktur nasi. Pendinginan merupakan proses yang penting karena menyebabkan pembentukan resistensi pati.

       Walaupun nasi dingin  merupakan rekomendasi yang baik bagi para penderita Diabetes Mellitus mengingat indeks glikemiknya rendah. Akan tetapi, yang harus diperhatikan adalah porsi nasi putih yang dikonsumsi. Bila anda mengonsumsi nasi dingin dengan porsi yang terlalu banyak, maka kadar gula darah Anda pun beresiko naik juga. Penderita Diabetes Mellitus sebaiknya melakukan perencanaan pola makan yang baik karena  diet sehat akan terpenuhi bukan hanya makan nasi yang dingin saja. Sebaiknya penderita Diabetes Mellitus tetap memperhatikan asupan gizi seimbang antara karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Selain itu, tetap mengontrol gula darah secara rutin dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan asupan makanan (meal plan) yang dapat dikonsumsi. Seseorang  yang mengalami penyakit Diabetes Mellitus bukan akhir dari segalanya. Anda bisa menjadi orang yang tetap produktif dan tetap bisa melakukan aktivitas yang Anda inginkan. Diabetes Mellitus mungkin tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa dikontrol dengan pola hidup yang sehat.

Sumber :

Dewi, A. P. & Isnawati, M. (2013). Pengaruh Nasi Putih Baru Matang Dan Nasi Putih Kemarin  (Teretrogradasi) Terhadap Kadar Glukosa Darah Postprandial Pada Subjek Wanita Pra Diabetes. Journal of Nutrition College, 2(3), 411-418.

Kementerian Kesehatan RI. Diet Seimbang. Diakses pada 26 Agustus 2019, dari http://promkes.kemkes.go.id

Sonia, S., Witjaksono, F., & Ridwan, R. (2015). Effect of Cooling of Cooked White Rice on Resistant Starch Content and Glycemic Response. Asia Pac J Clin Nutr, 24(4), 620-625.